Kamis, 24 Mei 2012
PENGARUH BUDAYA GLOBALISASI TERHADAP BANGSA DAN NEGARA INDONESIA Bangsa indonesia, Seperti hal nya bangsa-bangsa lain, Dalam era globalisasi ini tidak dapat menghindar dari arus derasnya kompleksitas perubahan (Inovasi) sebagai akibat canggihnya teknologi informasi, telekomunikasi dan transportasi, tatanan ekonomi dunia yang mengarah pada pasar bebas, serta tingkat efisiensi dan kompetisi yang tinggi di berbagai bidang kehidupan. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005) Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang.internet.public jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa. Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme 1. Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat 2. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa. 3. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa. Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme 1. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang 2. Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia. 3. Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat. 4. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa. 5. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa. Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa. Berapa indikator pengaruh negatif maupun positif globalisasi yang melanda bangsa dan negara indonesia antara lain dapat dilihat pada matrik berikut ini : Indikator Perubahan/Dampak Globalisasi 1. Politik Penyebaran nilai-nilai politik barat baik secara langsung atau tidak langsung dalam bentuk unjuk rasa, demonstrasi yang semakin berani dan terkadang ”mengabaikan kepentingan umum” dengan cara membuat kerusuhan dan anarkis. Semakin lunturnya nilai-nilai politik yang berdasarkan semangat kekeluargaan, masyarakat mufakat dan gotong royong. Semakin menguatnya nilai-nilai politik berdasarkan semangat individual, kelompok, oposisi, diktator mayoritas atau tirani minoritas. 2. Ekonomi Berlakunya the survival oe the fittest sehingga siapa yang memiliki modal yang besar akan semakin kuat dan yang lemah tersingkir. 3 Pemerintah hanya sebagai regulasi dalam pengaturan ekonomi yang mekanismenya akan ditentukan oleh pasar. Sektor-sektor ekonomi rakyat yang diberikan subsidi semakin berkurang, koperasi semakin sulit berkembang, dan penyerapan tenaga kerja dengan pola padat karya sudah semakin ditinggalkan. 3. Sosial dan Budaya Mudahnya nilai-nilai barat yang masuk baik milalui internet, antene parabola, media televisi, maupun media cetak yang kadang-kadang ditiru habis-habisan. Semakin lunturnya semangat gotong royong, solidaritas, kepedulian, dan kesetiakawanan sosial sehingga dalam keadaan tertentu hanya ditangani oleh segelintir orang. Semakin memudarnya nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara karna dianggap tidak ada hubungannya (sekularisme). 4. Ledakan Informasi Kemajuan iptek dan arus komunikasi global yang makin canggih, cepat, dan berkapasitas tinggi. Laju pertumbuhan dan akumulasi pengetahuan serta informasi meningkat sangat cepat secara tajam (eksponensial) 5. Hukum, Pertahanan dan Keamanan Semakin menguatnya supremasi hukum, demokratisasi, dan tuntutan terhadap dilaksanakannya hak-hak asasi manusia. Menguatnya regulasi hukum dan pembuatan peraturan perundang-undangan yang memihak dan bermanfaat untuk kepentingan rakyat. Semakin menguatnya tuntutan terhadap tugas-tugas penegak hukum (polisi, jaksa, dan hakim) yang lebih profesional, transparan dan akuntabel. Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang. Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone. Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat. Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme? Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme. Antisipasi Pengaruh Negatif Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu : 1. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri. 2. Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya. 3. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya. 4. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya. 5. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa. Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.
sumber dari google. Bangsa indonesia, Seperti hal nya bangsa-bangsa lain, Dalam era globalisasi ini tidak dapat menghindar dari arus derasnya kompleksitas perubahan (Inovasi) sebagai akibat canggihnya teknologi informasi, telekomunikasi dan transportasi, tatanan ekonomi dunia yang mengarah pada pasar bebas, serta tingkat efisiensi dan kompetisi yang tinggi di berbagai bidang kehidupan.
Indikator Perubahan/Dampak Globalisasi
3
Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda
Diposting oleh
muhammad yusup
di
17.47
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Hilangnya nilai-nilai pancasila
Hilangnya nilai-nilai pancasila yang ada dalam masyarakat disebabkan karena tidak adanya rasa persatuan antar masyarakat itu sendiri. Tidak ada sikap tenggang rasa, dan saling menghormati antar masyarakat sehingga seringkali terjadi perpecahan.
Contoh persoalan pertama adalah kehidupan antar umat beragama yang semakin rapuh. Antar agama saling mengunggulkan agamanya masing-masing. Dalam hal ini, khususnya agama islam, para teroris mengebom gereja. Dengan begitu pemeluk agama islam akan merasa sangat malu terhadap sesama pemeluk agamanya dan bahkan malu terhadap pemeluk agama lain. Karena hal ini sangat melecehkan dan menurunkan nama baik islam dimata agama lain.
Seharusnya kita memiliki sikap saling menghormati antar pemeluk agama. Hal tersebut dapat diciptakan dengan adanya arisan warga, adanya gotong royong membersihkan kampung, acara bakti social kepada fakir miskin dan anak terlantar. Dengan begitu komunikasi antar warga dapat berjalan baik, dan antar pemeluk agama juga membawa image agama yang ia punya dengan baik.
Contoh persoalan yang kedua adalah maraknya aksi tawuran pelajar. Dalam pendidikan diajarkan bahwa antar siswa harus memiliki sikap saling menghargai kepada siswa lain. Namun justru banyak siswa yang melecehkan siswa sekolah lain. Dan jika salah seorang tidak terima, maka teman-temannya juga ikut tidak terima. Dan menyebabkan banyak siswa menyerbu siswa yang ada di sekolah lain. Timbullah tawuran pelajar yang bahkan ada yang sampai meninggal hanya karena dipukuli. Hal ini sangat mencoreng nilai-nilai pancasila yang ada.
Bagaimana kita mengatasi semua ini ?dalam dunia pendidikan, guru sangat berperan penting dalam mengajarkan setiap siswanya untuk dapat menjalankan nilai-nilai pancasila dengan baik. Dalam menghadapi lingkungan sekitarnya, siswa didorong untuk membuat hubungan yang bermakna melalui budinya, yang menilai benda-benda serta kejadian yang beraneka ragam, dipilihnya apa yang menjadi tujuan dari dirinya.
Keluarga juga berperan penting dalam mengwasi setiap anaknya agar tidak terjerumus kedalam hal-hal yang negative. Misalnya mengontrol siapa teman dekat anaknya, atau mengawasi kegiatan apa yang mereka lakukan disekolah maupun diluar sekolah.
Bagaimana cara kita mengatasi agar nilai-nilai pancasila dapat tumbuh kembali ?pertama kita harus memulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Harus ada kesadaran dalam diri kita untuk menunjukkan sikap cinta terhadap tanah air dan manjunjung tinggi nilai-nilai pancasila yang ada. Dalam kehidupan beragama, kita harus menunjukkan sikap toleransi kita kepada pemeluk agama lain, menghargai dan menghormati kepercayaan mereka, tidak saling melecehkan dan saling mengunggulkan agamanya yang bisa menyebabkan perpecahan.
Dalam bermasyarakat, kita harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia. Mengembangkan sikap tenggang rasa atau menghargai agar antar masyarakat dapat menjalin komunikasi dengan baik dan dapat menciptakan ketentraman dalam masyarakat.
Budaya barat yang telah merebak luas pada kalangan masyarakat disekitar kita telah membawa dampak negative pada bangsa ini. Cara pemikiran dan pola pikir yang bertolak belakang justru banyak ditiru oleh masyarakat khususnya kaum muda. Kebiasaan hidup mewah, berfoya foya, dugem, narkoba, hingga sex bebas banyak dilakukan oleh mereka tanpa memandang hal tersebut melunturkan nilai-nilai pancasila yang ada di negara kita.
Padahal tanpa disadari hal tersebut justru akan melunturkan ideologi mereka sendiri dan akan berdampak pada negara. Karena mereka tidak menjalankan nilai-nilai pancasila yang akan merobohkan nasionalisme bangsa ini.
Dalam cara berpakaian., orang barat memakai pakaina yang terbuka, itu tidak masalah bagi mereka. namun di Indonesia hal tersebut menjadi tidak enak dipandang karena tidak sesuai dengan ideologi yang ada. Kita lebih mengutamakan sopan santun dan tidak terbuka dalam cara berpakaian.
Jangan terlalu berkiblat pada kebudayaan barat yang bertolak belakang dengan kebudayaan di negaraa kita. Kita haruspintar pintar memilih dan memilah mana yang dapat kita terima dan mana yang tidak boleh kita tiru
BAB III
KESIMPULAN dan SARAN
Hilangnya nilai-nilai pancasila yang dulu sangat mengakar dalam masyarakat, disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor keluarga, lingkungan, sistem pendidikan yang salah, ataupun pemahaman agama yang salah.
Dalam keluarga, orang tua hendaknya menanamkan nilai-nilai pancasila kepada anak-anak agar mereka bisa berperan penting bagi Negara Indonesia di kemudian hari. Tidak hanya menasehati namun juga mengajarkan dan mencontohkan bagaimana nilai-nilai pancasila tersebut dapat dijalankan dilingkungan keluarga maupun lingkungan sekiar mereka.
Dalam lingkungan sekitar, masyarakat khusunya kaum remaja dalam memilih teman pergaulan memiliki peranan yang sangat penting. Jika salah pergaulan, akan terjerumus kedalam hal-hal negative yang tentu saja hal tersebut dapat merusak moral anak yang akan berakibat sang anak tidak menjalankan nilai-nilai pancasila dengan baik. Contoh kasus yaitu, tawuran pelajar yang sangat merebak dikalangan anak-anak sekolah. Mereka menciptakan suasana kekerasan yang disebabkan karena adanya emosi maupun pelecehan antar siswa.
Dalam pendidikan, seharusnya guru ataupun pengajar tidak hanya memberikan penyampaian apa itu pancasila dan bagaimana nilai-nilai pancasila itu dijalankan. Namun pengajar harus lebih mementingkan bagaimana anak didik bisa menerapkan atau mempraktekkan nili-nilai pancasila didalam lingkungan sekitar mereka. contohnya gotong royong membersihkan sekolah bagi seluruh siswa, mengadakan drama atau teater yang mengandung pesan pancasila harus dijunjung tinggi. Maka dengan itu moral siswa akan terbentuk agar bisa menjalani nilai-nilai pancasila yang ada.
Dalah hal agama, kita harus memiliki sikap toleransi antar umat beragama. Tidak menyinggung agama yang satu dengan agama yang lainnya. Tidak menunjukkan sikap fanatik terhadap suatu agama yang dapat menghancurkan tempat-tempat beragama agama
lain. Tidak boleh merasa agamanya adalah agama yang paling benar dan mengunggulkannya di depan penganut agama lain untuk mengatasi terjadinya perpecahan.
Diposting oleh
muhammad yusup
di
17.28
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Kamis, 03 Mei 2012
“Sopan Santun” Sebuah Budaya yang Terlupakan
Sumber:dari google dan pendapat sendiri
Banyak pendapat menyatakan anak muda sekarang kurang menghargai sesamanya, penghormatan kepada orang yang lebih tua dan empati kepada yang menderita dinilai menipis. Salah satu contohnya yang mudah dilihat adalah membiarkan orang tua, perempuan hamil atau ibu yang sedang menggendong anaknya berdiri, sementara anak muda memilih tetap duduk di kursi dalam angkutan umum. Benarkah itu?
Iya, memang tak dapat dipungkiri, seiring dengan perkembangan zaman, tingkah laku para remaja kian berubah dari waktu ke waktu. Rasa hormat terhadap orang yang lebih tua secara terang-terangan sering kali tak ditunjukkan. Datangnya kebudayaan dari barat sangat mempengaruhi nilai-nilai tradisional bangsa Indonesia, sehingga semakin lama nilai tradisional Negara kita sendiri semakin pudar. Para remaja Indonesia kian mengikuti dan mencontoh kebudayaan luar negeri dan melupakan nilai-nilai tradisional Negara sendiri, seperti contohnya kesopanan.
Sopan santun, atau juga dikenal sebagai tata krama, merupakan salah satu ciri khas dari masyarakat Indonesia. Sejak dahulu, bangsa Indonesia dikenal dengan keramahannya, kesopanannya, serta adat istiadat yg dijunjung tinggi. Namun, apabila kita berkaca pada kehidupan bangsa saat ini, sungguh ironis sekali dimana banyak sekali pergeseran yang dilakukan oleh anak- anak, remaja mengenai budaya sopan santun ini. Di majalah, televisi, internet, tak jarang orang berani melakukan perilaku yang sebenarnya dianggap tidak sopan, namun sudah dianggap biasa.
Secara tidak langsung dengan kurangnya kita bersopan santun dan bertatakrama, jati diri kita sebagai bangsa indonesia sudah mulai luntur. Inilah masalah besar yang timbul dari hal sepele, perkara yang seharusnya kitaperhatikan sejak kita masih kecil, hal yang seharusnya diajarkan oleh para orang tua. Memang, masih banyak orang dari bangsa ini yang masih menjunjung kesopanan dan tatakrama, tetapi lebih banyak lagi orang-orang yang telah melupakan tentang tatakrama dan sopan santun tersebut. Inilah persoalan yang mendasar yang menjadi permasalahan bangsa indonesia saat ini. “Krisis jati diri” mungkin itu kata yang tepat untuk menyebutkan situasi bangsa Indonesia saat ini. Sebenarnya kata itu sangat menyakitkan hati bagi oarang-orang yang mau berfikir. Bangsa ini merupakan bangsa yang berbudaya , namun bangsa ini kini telah kehilangan jatu dirinya. Bangsa yang duluhebat karena budayanya, kini telah rapuh dengan sendirinya. Persoalan inilah yang menimbulkan masalah yang lebih besar dan mengerikan.
Pada dasarnya kita harus sopan dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi apapun. Apalagi kita hidup dalam budaya Timur yang sarat akan nilai-nilai kesopanan, sehingga seharusnya kita berpatokan dalam budaya timur dan berpedoman pada sopan santun ala timur. Sopan santun itu bukan warisan semata dari nenek moyang, lebih dari itu, dia sudah menjadi kepribadian kita. Memang kadar kesopanan yang berlaku dalam setiap masyarakat berbeda–beda, tergantung dari kondisi sosial setempat. Dan permasalahan ini sangat komplek karena berkaitan dengan faktor internal dan eksternal yang menyebabnya lunturnya nilai sopan santun.
Faktor eksternal terealisasi dalam kondisi sekarang yang secara realita kebudayaan terus berubah karena masuknya budaya barat yang akan sulit mempertahankan kesopanan disemua keadaan ataupun disemua tempat. Perubahan tersebut mengalami dekadensi karena berbedanya kebudayaan barat dengan kebudayaan kita. Misalnya saja sopan santun dalam tutur kata. Di barat, anak-anak yang sudah dewasa biasanya memanggil orang tuanya dengan sebutan nama, tetapi di Indonesia sendiri panggilan tersebut sangat tidak sopan karena orang tua umurnya lebih tua dari kita dan kita harus memanggilnya bapak ataupun ibu. Kemudian sopan santun dalam berpakaian, diluar negeri orang yang berpakaian bikini dipantai bagi mereka wajar. Tapi bagi kita berpakaian seperti itu sangat tidak sopan karena dianggap tidak sesuai dengan norma kesopanan. Selanjutnya Sopan santun dalam bergaul, dibarat jika kita bertemu teman yang berlawanan jenis kita boleh mencium bibirnya, tetapi di Indonesia hal tersebut sangat bertentangan dengan kesusilaan. Oleh karena kebudayaan yang masuk tidak tersaring sepenuhnya menyebabkan lunturnya sopan santun.
Sedangkan faktor internalnya ada pada diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat nongkrong, lingkungan sekolah, ataupun media massa. Pengetahuan tentang sopan santun yang didapat disekolah mungkin sudah cukup tapi dilingkungan keluarga ataupun tempat tongkrongan dan media massa kurang mendukung tindakan sopan disemua tempat ataupun sebaliknya, sehingga membuat tindakan sopan yang dilakukan oleh anak-anak atau pun remaja hanya dalam kondisi tertentu. Misalnya penyebutan nama bagi yang umurnya lebih tua masih dianggap tidak sopan sehingga mereka memanggil mas, bang, aa, ataupun yang lain. Sedangkan dalam berpakaian ataupun yang lain kurang diperhatikan. Kita sendiri tak memungkiri keadaan tersebut , kondisi lingkungan yang kurang peduli terhadap kesopanan, sehingga akhirnya pada saat-saat tertentu saja kita sopan. Seperti disekolah, ditempat kuliah, ataupun di tempat-tempat formal yang lainnya. Keadaan ini seharusnya jangan sampai terjadi karena lama kelamaan akan menimbulkan hilangnya kebudayaan kita dan mungkin akhirnya kita tidak mempunyai kebudayaan sendiri.
Fakta lain yang menunjukkan menurunnya tingkat kesopanan remaja di Indonesia adahal seperti halnya zaman dahulu, para remaja sangatlah sopan terhadap orang yang lebih tua. Mereka harus berlutut atau dalam bahasa jawa “sungkem” jika sedang berhadapan dengan orang yang lebih tua. Para remaja sangat hormat dan tunduk kepada orang tua dan hal tersebut membuktikan bahwa para remaja sangatlah sopan terhadap orang tua. Tetapi sangatlah berbeda dengan zaman sekarang. Kebanyakan remaja berlaku tidak sopan terhadap orang yang lebih tua. Melawan ketika dinasihati, memotong pembicaraan, membiarkan berdiri sedangkan ia tetap memilih duduk dikursi dalam angkutan umum, dan masih banyak lagi lainnya.
Melihat kondisi demikian, agaknya tepat jika orang tua ikut berperan dalam pembentukan etika pada anak. Dan orang tua pula dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut. Namun mengajarkan etika tidak bisa dilakukan hanya satu hari. Hal ini membutuhkan proses yang cukup panjang dan haris dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Hal tersebut adalah suatu langkah awal untik membentuk suatu generasi yang sadar diri terhadap tatakrama dan sopan santun.
Pendidikan karakter juga harus terus diupayakan sebagai pengganti dari konsep Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang kini telah tiada dan hanya tinggal menjadi sebuah nama dalam perjalanan sejarah masa lalu. Pengertian karakter yang banyak dikaitkan dengan pengertian budi pekerti, akhlak mulia, moral, dan bahkan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligence) kiranya bisa membantu dalam membentuk norma kesopanan pada anak. Hal ini Mengingat lingkungan pendidikan merupakan tempat di mana waktu banyak dihabiskan maka perannya juga tidak boleh dikecilkan. Sayangnya, pendidikan budaya di lingkungan sekolah sejauh ini belum bisa mencapai tujuan utamanya. Pendidikan bahasa Jawa hanya mengajarkan tutur bahasa Jawa. Seharusnya, pengajaran tentang kebudayaan Jawa yang berkaitan dengan budi pekerti dan kepribadian juga diajarkan. Perkembangan zaman saat ini merupakan pemicu dari lambatnya pemahaman budaya masyarakat termasuk pendidik. Selain itu, secara disiplin ilmu mereka juga tidak paham tentang budaya sebenarnya. Padahal pendidikan karakter yang selama ini digemborkan dalam sistem pendidikan, sangat erat kaitannya dengan kearifan lokal, termasuk budaya dan bahasa Jawa.
Nilai-nilai tradisional sebenarnya sangatlah penting bagi remaja-remaja itu sendiri. Nilai-nilai kesopanan yang dibawa remaja-remaja Indonesia akan memberi dampak positif bagi mereka yang membawanya. Remaja-remaja yang menjaga kesopanan di mana saja dan terhadap siapa saja akan dinilai lebih oleh orang lain dan hal tersebut menjadikan image yang bagus bagi remaja itu sendiri. Menjaga kesopanan juga menjanjikan masa depan yang lebih baik karena orang-orang akan menganggap kita tinggi dan bermartabat.
Nilai-nilai tradisional terutama kesopanan harus tetap dijaga para remaja Indonesia sehingga tidak hilang seiring dengan berkembangnya zaman. Nilai-nilai kesopanan sangatlah penting dalam hidup bermasyarakat dan bersosialisasi dengan orang banyak sehingga orang lain juga dapat menghormati kita sebagaimana kita telah menjaga kesopanan dikalangan orang banyak. Dengan menjaga nilai-nilai kesopanan kita, para remaja yang disebut-sebut sebagai penerus bangsa, juga dapat memajukan bangsa Indonesia dengan menjaga nilai-nilai tradisional yang sudah dibawa dari dulu.
Tulisan ini hanya sekadar mengungkapkan kekecewaan penulis atas berkurangnya nilai-nilai kesopanan yang dimiliki bangsa ini. Marilah kita mulai membuka mata, dan melihat kembali di sekeliling kita, apakah sopan santun itu masih ada, atau hanya akan menjadi budaya yang terlupakan oleh bangsa ini.
Renungkanlah sejenak, meskipun kesopanan itu merupakan bagian kecil dari kehidupan, kesopanan inilah yang akan membuat hidup kita jadi lebih baik. Mari kita mulai untuk menghidupkan kembali budaya sopan santun yang baik. Menanamkan itu pada anak cucu kita, sehingga ciri khas dari bangsa ini tidak akan hilang ditelan waktu. “Sopan santun sebuah budaya yang terlupakan” hanyalah sebagai pengingat untuk kita agar tidak melupakan perilaku sopan dan santun dalam kehidupan ini.
Teruntuk generasi-generasi muda Indonesia yang cerdas, semangat, baik, berwawasan luas, sehat jasmani dan rohani, moral yang baik dan menjunjung tinggi kesopanan, mari kita bersatu rapatkan barisan kita, perbaiki kembali kepribadian kita, akhlak kita, moral kita, dan lihatlah ke dalam diri kita sendiri dan renungkan kembali apa yang harus kita lakukan sebagai generasi muda Indonesia agar Negara kita Negara yang bersih, sehat, maju, kuat, dan cerdas dengan anak-anak dari generasi yang akan datang. Kita semua tahu, sebagi generasi muda Indonesia masa depan Indonesia bergantung pada generasi muda selanjutnya yang akan maju menggantikan generasi senior yang memang sudah waktunya menyerahkan kepemimpinan kepada generasi-generasi muda untuk mengurus dan membenahi Negara kita Indonesia menjadi Negara yang lebih baik, adil, jujur, dan bersih dari segala macam keburukan-keburukan yang kotor.
Kesimpulan:sebagai generasi muda,seharusnya kita harus tetap menjaga sopansantun terhadap setiap orang,selain dari agama saya yang menganjurkan untuk sopan terhadap yang lebih tua,agama saya menganjurkan untuk melakukan silaturahmi dengan baik sesama umat muslim,jadi seharusnya kita harus melestarikan budaya sopan santun
Diposting oleh
muhammad yusup
di
00.07
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Minggu, 22 April 2012
Budaya Premanisme Merajalela karena Aparat Lemah
sumber dari google dan pendapat sendiri
Aksi premanisme yang semakin marak dan brutal tak lepas dari lemahnya penanganan dari aparat keamanan. Premanisme berumur panjang juga karena dipelihara oleh aparat kepolisian.
Pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar, mengungkapkan polisi tidak hanya mutlak tegas, tetapi juga mesti konsisten menindak preman. Tidak cuma menggelar operasi ketika ada kejadian besar, tetapi harus terus-menerus sebagai langkah represif.
“Premanisme telah mengakar dan menjamur. Kalau polisi tidak tegas dan konsisten, ini akan berlanjut dan lebih brutal lagi. Polisi juga harus melakukan langkah preventif dengan berpatroli rutin hingga ke lingkungan warga,” ujar Bambang di Jakarta, kemarin.
Ia menanggapi kian menggilanya para preman. Bahkan sekelompok orang nekat membantai pelayat di rumah duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Rabu (22/2) dini hari WIB. Dalam insiden itu, dua orang tewas dan empat luka-luka.
Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menilai preman terus eksis karena dipelihara aparat kepolisian sehingga sulit diberantas. “Kalau kita lihat di kawasan Senayan yang dekat Polda Metro Jaya saja dikuasai oleh 2-3 kelompok preman. Mereka berani beroperasi di sana karena ada perlindungan oknum polisi,” ujar Neta.
Adanya budaya setoran kepada oknum kepolisian dari preman-preman kecil di pinggir jalan atau di terminal juga membuktikan indikasi keterlibatan aparat sehingga premanisme panjang usia di Indonesia.
Saat memberikan sambutan pembukaan Munas IX Generasi Muda FKPPI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun prihatin dengan merajalelanya premanisme. Ia mengaku telah berkali-kali meminta aparat menghentikan aksi kekerasan.
Di Mabes Polri, Kapolri Jenderal Timur Pradopo berjanji jajarannya akan bertindak tegas memberantas preman. “Namun, Polri tidak sanggup bertindak sendirian. Masyarakat harus ikut berpartisipasi.”
Saat berkunjung ke Kantor Media Group, Kedoya, Jakarta Barat, kemarin, Kadiv Humas Polri Irjen Saud Usman Nasution mengatakan hal yang sama.
Untuk memberantas premanisme, Polda Metro Jaya menggelar Operasi Kilat Jaya. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan sedikitnya 30 preman dibekuk di Kalideres, Jakbar, kemarin.
Di sisi lain, Kapolres Jakarta Pusat Angesta Romano Yoyol menyatakan insiden di rumah duka RSPAD terkait dengan bisnis narkoba senilai Rp320 juta. Polisi telah menetapkan tiga tersangka. (mediaindonesia.com, 25/2/2012)
Aksi premanisme yang semakin marak dan brutal tak lepas dari lemahnya penanganan dari aparat keamanan. Premanisme berumur panjang juga karena dipelihara oleh aparat kepolisian.
Pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar, mengungkapkan polisi tidak hanya mutlak tegas, tetapi juga mesti konsisten menindak preman. Tidak cuma menggelar operasi ketika ada kejadian besar, tetapi harus terus-menerus sebagai langkah represif.
“Premanisme telah mengakar dan menjamur. Kalau polisi tidak tegas dan konsisten, ini akan berlanjut dan lebih brutal lagi. Polisi juga harus melakukan langkah preventif dengan berpatroli rutin hingga ke lingkungan warga,” ujar Bambang di Jakarta, kemarin.
Ia menanggapi kian menggilanya para preman. Bahkan sekelompok orang nekat membantai pelayat di rumah duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Rabu (22/2) dini hari WIB. Dalam insiden itu, dua orang tewas dan empat luka-luka.
Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane menilai preman terus eksis karena dipelihara aparat kepolisian sehingga sulit diberantas. “Kalau kita lihat di kawasan Senayan yang dekat Polda Metro Jaya saja dikuasai oleh 2-3 kelompok preman. Mereka berani beroperasi di sana karena ada perlindungan oknum polisi,” ujar Neta.
Adanya budaya setoran kepada oknum kepolisian dari preman-preman kecil di pinggir jalan atau di terminal juga membuktikan indikasi keterlibatan aparat sehingga premanisme panjang usia di Indonesia.
Saat memberikan sambutan pembukaan Munas IX Generasi Muda FKPPI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun prihatin dengan merajalelanya premanisme. Ia mengaku telah berkali-kali meminta aparat menghentikan aksi kekerasan.
Di Mabes Polri, Kapolri Jenderal Timur Pradopo berjanji jajarannya akan bertindak tegas memberantas preman. “Namun, Polri tidak sanggup bertindak sendirian. Masyarakat harus ikut berpartisipasi.”
Saat berkunjung ke Kantor Media Group, Kedoya, Jakarta Barat, kemarin, Kadiv Humas Polri Irjen Saud Usman Nasution mengatakan hal yang sama.
Untuk memberantas premanisme, Polda Metro Jaya menggelar Operasi Kilat Jaya. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan sedikitnya 30 preman dibekuk di Kalideres, Jakbar, kemarin.
Di sisi lain, Kapolres Jakarta Pusat Angesta Romano Yoyol menyatakan insiden di rumah duka RSPAD terkait dengan bisnis narkoba senilai Rp320 juta. Polisi telah menetapkan tiga tersangka. (mediaindonesia.com, 25/2/2012)
Premanisme Kenapa Tidak Bisa Hilang?
SEJARAH PREMANISME
Sesuai asal katanya yang diperoleh dari Wikipedia, kata Premanisme berasal dari kata bahasa Belanda vrijman = orang bebas, merdeka dan isme = aliran. Yaitu sebutan pejoratif yang sering digunakan untuk merujuk kepada kegiatan sekelompok orang yang mendapatkan penghasilannya terutama dari pemerasan kelompok masyarakat lain.
Premanisme di Negara Indonesia makin marak, sebenarnya kasus ini sudah banyak dijumpai sejak dulu, tapi sepertinya tidak pernah tuntas. Hal ini mengakibatkan premanisme terus saja berkutat di negara ini.
Mengapa premanisme semakin merajalela di Negara ini? Premanisme muncul karena kesulitan ekonomi dan tingkat pengangguran semakin tinggi, kerap terjadi pada kelompok usia kerja. Mereka mulai mencari cara untuk mendapatkan penghasilan, akhirnya yang terjadi adalah pemaksaan dan pemerasan, bisa juga dalam bentuk jasa yang sebenarnya tidak diperlukan.
Contoh sederhana premanisme di Indonesia:
1. Terminal, dengan cara memungut bayaran dari sopir-sopir, sehingga sopir terancam nyawanya, mau tidak mau akhirnya para sopir pun memberikannya
2. Pasar, memungut bayaran dari penjual lapak-lapak di pasar, bila tidak diberi maka menyangkut dengan kelangsungan dagangan dan lapaknya tentunya.
1. Terminal, dengan cara memungut bayaran dari sopir-sopir, sehingga sopir terancam nyawanya, mau tidak mau akhirnya para sopir pun memberikannya
2. Pasar, memungut bayaran dari penjual lapak-lapak di pasar, bila tidak diberi maka menyangkut dengan kelangsungan dagangan dan lapaknya tentunya.
Menurut catatan kepolisian yang diperoleh, sudah ada 2.990 orang yang ditindak, sebanyak 476 orang dalam proses pidana dan 2.514 orang masuk dalam pembinaan.
Sedangkan untuk daerah-daerah yang tertinggi adalah Polda Metro Jaya sebanyak 2.179 orang, Polda Lampung sebanyak 272 orang, Polda Jawa Timur (Jatim) sebanyak 150 orang dan Polda Jawa Tengah (Jateng) 102 orang, ujarnya.
Sekeras apapun pihak kepolisian menindak tegas para preman, namun tidak akan pernah berhenti atau hilang. Hal berikut mungkin bisa mengurangi jumlah preman:
1. Berikan pelatihan atau ketrampilan gratis yang berguna dan dapat menghasilkan pendapatan bagi masyarakat
2. Sediakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya, dalam hal ini harus bekerjasama dengan pihak asing atau pihak swasta dan para pengusaha di Indonesia
3. Perkuat moral sejak dini bagi generasi muda kita, bisa dimulai tentunya dari keluarga dan pendidikan
4. Hentikan atau kurangi program di televisi yang mengandung aksi kekerasan
5. Perketat hukuman bagi pelanggar hukum
6. Pemerintah terutama pihak terkait harus bertindak tegas terhadap preman dan oknum dibalik premanisme, berkoordinasi dengan dengan para pemangku kepentingan di antaranya tokoh masyarakat dan agama untuk mengimbau agar tidak melibatkan diri dan tidak terlibat dalam aksi premanisme
Kapan kira-kira negara ini bebas dari premanisme? Yang pasti semua pihak terkait dalam memberantas premanisme.
1. Berikan pelatihan atau ketrampilan gratis yang berguna dan dapat menghasilkan pendapatan bagi masyarakat
2. Sediakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya, dalam hal ini harus bekerjasama dengan pihak asing atau pihak swasta dan para pengusaha di Indonesia
3. Perkuat moral sejak dini bagi generasi muda kita, bisa dimulai tentunya dari keluarga dan pendidikan
4. Hentikan atau kurangi program di televisi yang mengandung aksi kekerasan
5. Perketat hukuman bagi pelanggar hukum
6. Pemerintah terutama pihak terkait harus bertindak tegas terhadap preman dan oknum dibalik premanisme, berkoordinasi dengan dengan para pemangku kepentingan di antaranya tokoh masyarakat dan agama untuk mengimbau agar tidak melibatkan diri dan tidak terlibat dalam aksi premanisme
Kapan kira-kira negara ini bebas dari premanisme? Yang pasti semua pihak terkait dalam memberantas premanisme.
Sember: dari google,dan pemikiran sendiri.
KESIMPULAN
Premanisme sangatlah meresahkan bagi setiap orang,karena premanisme suka bertindak anarkis,bahkan bisa menyebabkan kematian,untuk memberantasnya sendiri menurut saya pribadi itu sesuatu yang sangat sulit di laksanakan,selain karna banyak faktor,kita tidak mungkin memusnahkan premanisme di dunia ini,kita hanya bisa meminimalisir aksi premanisme,dengan cara pendekatan melalui keluarga,dan para tokoh ulama sering mengingatkan bahwa melakukan kriminal itu adalah dosa.
Diposting oleh
muhammad yusup
di
05.35
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Jumat, 20 April 2012
Mulai hilangnya budaya Nasionalisme terhadap bangsa
sumber dari google dan pendapat sendiri
Sekarang di lihat dari zaman-kezaman rasa nasionalisme di kalangan masyarakat indonesia sangatlah menurun,tidak hanya dari anak,remaja dan dewasa,sekarang rasa nasionalisme pada negara kita sangatlah jauh berbeda dengan orang-orang dahulu,bayangkan saja orang dahulu rela berkorban nyawa hanya untuk kemerdekaan bangsa ini.zaman dahulu kemerdekaan untuk bangsa adalah harga mati,karena mereka ingin bebas hidup makmur dari penjajahan ,tapi zaman sekarang masyarakat pada umumnya telah menganggap bahwa itu adalah zaman dahulu,zaman sekarang ya sekarang beda dengan zaman sekarang ,itu pola pemikiran yang sangat salah.
Dalam menumbuhkan patriotisme pada anak2, intinya kita hrs selalu menginformasikan hal2 mengenai nasionalisme kpd mrka, serta menjelaskan arti pentingnya hari2 bsr nasional serta event2 nasional lainnya. Bisa dgn hal2 simpel sprt menonton berita bersama, bantulah mrka utk mengerti tdk hanya tentang fakta mengenai pemerintahan kita, namun ttg arti demokrasi sebenarnya. & Anda sebaiknya memberikan pandangan Anda sendiri mengenai event2 atau hari kebesaran nasional yg terjadi, diskusikan kepadanya bhw org lain pun dpt memiliki pandangan2 yg berbeda.
Berikut ini Beberapa Penyebab Memudarnya
Nasionalisme & Patriotisme
” Faktor Internal “
Pemerintahan pd zaman reformasi yg jauh dari harapan , sehingga membuat masyarakat kecewa pd kinerja pemerintah saat ini. Terkuaknya kasus2 korupsi, penggelapan uang Negara, & penyalahgunaan kekuasaan olh para pejabat Negara membuat para pemuda enggan utk memerhatikan lagi pemerintahan.
Sikap keluarga & lingkungan sekitar yg tdk mencerminkan rasa nasionalisme & patriotisme, sehingga para anak meniru sikap tersebut. Para anak merupakan peniru yg baik terhadap lingkungan sekitarnya.
Demokratisasi yg melewati batas etika & sopan santun dan maraknya unjuk rasa, telah menimbulkan frustasi di kalangan anak & hilangnya optimisme, sehingga yg ada hanya sifat malas, egois & emosional.
Tertinggalnya Indonesia dgn Negara-negara lain dalam segala aspek kehidupan, membuat para pemuda tdk bangga lagi menjadi bangsa Indonesia.
Timbulnya etnosentrisme yg menganggap sukunya lebih baik dari suku-suku lainnya, membuat anak lebih mengagungkan daerah atau sukunya daripada persatuan bangsa.
” Faktor Eksternal “
Cepatnya arus globalisasi yg berimbas pd moral pemuda. Mrka lebih memilih kebudayaan negara lain, dibandingkan dgn kebudayaanya sendiri, sbg contohnya para pemuda lbh memilih memakai pakaian minim yg mencerminkan budaya barat dibandingkan memakai batik atau baju yg sopan yg mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Para pemuda kini dikuasai olh narkoba & minum2 keras, sehingga sgt merusak martabat bangsa Indonesia
Paham liberalisme yg dianut olh Negara2 barat yg memberikan dampak pd kehidupan bangsa. Anak cenderung meniru paham libelarisme, seperti sikap individualisme yg hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan sekitar & sikap acuh tak acuh pd pemerintahan.
Upaya Menanamkan Rasa Cinta Tanah Air di Sekolah
1. Melaksanakan Upacara Bendera
Rasa Cinta Tanah Air dpt ditanamkan kpdanak sejak usia dini agar rasa terhadap cinta tanah air tertananam d hatinya & dpt mnjd manusia yg dpt menghargai bangsa & negaranya misalnya dgn upacara sederhana setiap hari Senin yg di lakukuan di sekolah dgn menghormat bendera Merah Putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya dgn penuh bangga, & mengucapkan Pancasila dgn semangat.
Kegiatan seperi ini bisa diarahkan pada 5 aspek perkembangan sikap perilaku maupun kemampuan dasar. Pada aspek sikap perilaku, melalui cerita bs menghargai & mencintai Bendera Merah Putih, mengenal cara mencintai Bendera Merah Putih dgn merawat & menyimpan dgn baik, menghormati bendera ketika dikibarkan
2. Melatih Siswa Utk Aktif Dalam Berorganisasi
Kegiatan anak di luar belajar formal jg melatih inisiatif. Anak yg melibatkan dirinya dlm organisasi, akan berusaha menjadi pribadi yg berguna. Inilah sebabnya, anak menjadi pribadi yg berinisiatif tinggi krn ia merasa diperlukan olh organisasinya. Anak yg berorganisasi juga cenderung lebih obyektif dalam menilai sesuatu. Ia terbiasa dgn perbedaan & lebih mudah menerimanya. Anak juga lebih mudah menerima konflik yg biasa terjadi dalam organisasi.
3. Melalui Acara Memperingati Hari Besar Nasional
Kegiatan lain adlh memperingati hari besar nasional dgn kegiatan lomba atau pentas budaya, mengenalkan aneka kebudayaan bangsa secara sederhana dgn menunjukkan miniatur candi & menceritakannya, gambar rumah & pakaian adat, mengenakan pakaian adat pd hari Kartini, serta mengunjungi museum terdekat, mengenal para pahlawan melalui bercerita atau bermain peran. Bisa jg diintegrasikan dlm tema lain melalui pembiasaan sikap & perilaku, misalnya mnjga kebersihan & kelestarian lingkungan, menyayangi sesama penganut agama, menyanyangi sesama & makhluk Tuhan yg lain, tenggang rasa & menghormati orang lain. Menciptakan kedamaian bangsa adlh juga perwujudan rasa cinta tanah air.
4. Melalui Lagu-Lagu Nasional
Yg tdk kalah menariknya adalah menanamkan rasa cinta tanah air melalui lagu. Dgn menyanyi apalagi jika diiringi dgn musik, anak akn merasa senang, gembira, serta lebih mdh hafal & memahami pesan yg akn disampaikan guru. Jika lagu wajib nasional dianggap msh terlalu sulit utk anak, maka guru bisa menciptakan lagu sendiri yg sesuai utk anak usia dini. Guru diberikan kebebasan utk mengembangkan kreativitasnya di sekolah termasuk dlm menciptakan lagu. Lagu utk anak usia dini biasanya dgn kalimat yg sederhana, mdh diucapkan, mdh dipahami & dihafalkan. Lagu sebaiknya yg bernada riang gembira, krn hal ini akn merangsang perkembangan otak anak, anak terbiasa utk selalu riang dlm bekerja, cepat dlm menghadapi & memutuskan masalah, tdk cepat putus asa.
5. Memberikan Pendidikan Moral
Membentuk moral anak bisa dilakukan lewat story telling (dongeng). Kegiatan membaca dongeng & berdiskusi antara guru & anak, ini dpt dilakukan di sekolah maupun di rumah. Anak tentu saja mnjdi anugerah terindah bagi setiap orangtua. Namun, ketika sang buah hati beranjak remaja atau dewasa, bs jadi anak yg telah dibesarkan & dididik sebaik mungkin, mnjadi ank yg tdk mengerti nilai2 moral dlm kehidupan.
Sekarang di lihat dari zaman-kezaman rasa nasionalisme di kalangan masyarakat indonesia sangatlah menurun,tidak hanya dari anak,remaja dan dewasa,sekarang rasa nasionalisme pada negara kita sangatlah jauh berbeda dengan orang-orang dahulu,bayangkan saja orang dahulu rela berkorban nyawa hanya untuk kemerdekaan bangsa ini.zaman dahulu kemerdekaan untuk bangsa adalah harga mati,karena mereka ingin bebas hidup makmur dari penjajahan ,tapi zaman sekarang masyarakat pada umumnya telah menganggap bahwa itu adalah zaman dahulu,zaman sekarang ya sekarang beda dengan zaman sekarang ,itu pola pemikiran yang sangat salah.
Dalam menumbuhkan patriotisme pada anak2, intinya kita hrs selalu menginformasikan hal2 mengenai nasionalisme kpd mrka, serta menjelaskan arti pentingnya hari2 bsr nasional serta event2 nasional lainnya. Bisa dgn hal2 simpel sprt menonton berita bersama, bantulah mrka utk mengerti tdk hanya tentang fakta mengenai pemerintahan kita, namun ttg arti demokrasi sebenarnya. & Anda sebaiknya memberikan pandangan Anda sendiri mengenai event2 atau hari kebesaran nasional yg terjadi, diskusikan kepadanya bhw org lain pun dpt memiliki pandangan2 yg berbeda.
Berikut ini Beberapa Penyebab Memudarnya
Nasionalisme & Patriotisme
” Faktor Internal “
Pemerintahan pd zaman reformasi yg jauh dari harapan , sehingga membuat masyarakat kecewa pd kinerja pemerintah saat ini. Terkuaknya kasus2 korupsi, penggelapan uang Negara, & penyalahgunaan kekuasaan olh para pejabat Negara membuat para pemuda enggan utk memerhatikan lagi pemerintahan.
Sikap keluarga & lingkungan sekitar yg tdk mencerminkan rasa nasionalisme & patriotisme, sehingga para anak meniru sikap tersebut. Para anak merupakan peniru yg baik terhadap lingkungan sekitarnya.
Demokratisasi yg melewati batas etika & sopan santun dan maraknya unjuk rasa, telah menimbulkan frustasi di kalangan anak & hilangnya optimisme, sehingga yg ada hanya sifat malas, egois & emosional.
Tertinggalnya Indonesia dgn Negara-negara lain dalam segala aspek kehidupan, membuat para pemuda tdk bangga lagi menjadi bangsa Indonesia.
Timbulnya etnosentrisme yg menganggap sukunya lebih baik dari suku-suku lainnya, membuat anak lebih mengagungkan daerah atau sukunya daripada persatuan bangsa.
” Faktor Eksternal “
Cepatnya arus globalisasi yg berimbas pd moral pemuda. Mrka lebih memilih kebudayaan negara lain, dibandingkan dgn kebudayaanya sendiri, sbg contohnya para pemuda lbh memilih memakai pakaian minim yg mencerminkan budaya barat dibandingkan memakai batik atau baju yg sopan yg mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Para pemuda kini dikuasai olh narkoba & minum2 keras, sehingga sgt merusak martabat bangsa Indonesia
Paham liberalisme yg dianut olh Negara2 barat yg memberikan dampak pd kehidupan bangsa. Anak cenderung meniru paham libelarisme, seperti sikap individualisme yg hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keadaan sekitar & sikap acuh tak acuh pd pemerintahan.
Upaya Menanamkan Rasa Cinta Tanah Air di Sekolah
1. Melaksanakan Upacara Bendera
Rasa Cinta Tanah Air dpt ditanamkan kpdanak sejak usia dini agar rasa terhadap cinta tanah air tertananam d hatinya & dpt mnjd manusia yg dpt menghargai bangsa & negaranya misalnya dgn upacara sederhana setiap hari Senin yg di lakukuan di sekolah dgn menghormat bendera Merah Putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya dgn penuh bangga, & mengucapkan Pancasila dgn semangat.
Kegiatan seperi ini bisa diarahkan pada 5 aspek perkembangan sikap perilaku maupun kemampuan dasar. Pada aspek sikap perilaku, melalui cerita bs menghargai & mencintai Bendera Merah Putih, mengenal cara mencintai Bendera Merah Putih dgn merawat & menyimpan dgn baik, menghormati bendera ketika dikibarkan
2. Melatih Siswa Utk Aktif Dalam Berorganisasi
Kegiatan anak di luar belajar formal jg melatih inisiatif. Anak yg melibatkan dirinya dlm organisasi, akan berusaha menjadi pribadi yg berguna. Inilah sebabnya, anak menjadi pribadi yg berinisiatif tinggi krn ia merasa diperlukan olh organisasinya. Anak yg berorganisasi juga cenderung lebih obyektif dalam menilai sesuatu. Ia terbiasa dgn perbedaan & lebih mudah menerimanya. Anak juga lebih mudah menerima konflik yg biasa terjadi dalam organisasi.
3. Melalui Acara Memperingati Hari Besar Nasional
Kegiatan lain adlh memperingati hari besar nasional dgn kegiatan lomba atau pentas budaya, mengenalkan aneka kebudayaan bangsa secara sederhana dgn menunjukkan miniatur candi & menceritakannya, gambar rumah & pakaian adat, mengenakan pakaian adat pd hari Kartini, serta mengunjungi museum terdekat, mengenal para pahlawan melalui bercerita atau bermain peran. Bisa jg diintegrasikan dlm tema lain melalui pembiasaan sikap & perilaku, misalnya mnjga kebersihan & kelestarian lingkungan, menyayangi sesama penganut agama, menyanyangi sesama & makhluk Tuhan yg lain, tenggang rasa & menghormati orang lain. Menciptakan kedamaian bangsa adlh juga perwujudan rasa cinta tanah air.
4. Melalui Lagu-Lagu Nasional
Yg tdk kalah menariknya adalah menanamkan rasa cinta tanah air melalui lagu. Dgn menyanyi apalagi jika diiringi dgn musik, anak akn merasa senang, gembira, serta lebih mdh hafal & memahami pesan yg akn disampaikan guru. Jika lagu wajib nasional dianggap msh terlalu sulit utk anak, maka guru bisa menciptakan lagu sendiri yg sesuai utk anak usia dini. Guru diberikan kebebasan utk mengembangkan kreativitasnya di sekolah termasuk dlm menciptakan lagu. Lagu utk anak usia dini biasanya dgn kalimat yg sederhana, mdh diucapkan, mdh dipahami & dihafalkan. Lagu sebaiknya yg bernada riang gembira, krn hal ini akn merangsang perkembangan otak anak, anak terbiasa utk selalu riang dlm bekerja, cepat dlm menghadapi & memutuskan masalah, tdk cepat putus asa.
5. Memberikan Pendidikan Moral
Membentuk moral anak bisa dilakukan lewat story telling (dongeng). Kegiatan membaca dongeng & berdiskusi antara guru & anak, ini dpt dilakukan di sekolah maupun di rumah. Anak tentu saja mnjdi anugerah terindah bagi setiap orangtua. Namun, ketika sang buah hati beranjak remaja atau dewasa, bs jadi anak yg telah dibesarkan & dididik sebaik mungkin, mnjadi ank yg tdk mengerti nilai2 moral dlm kehidupan.
Kesimpulan
Rasa naisonalisme sangatlah harus di pelihara di jiwa masing-masing orang,karena nasionalisme menyakut dengan harga diri bangsa kita,jika rasa nasionalisme untuk bangsa kita saja sudah hilang,bagaimana jika nanti bangsa kita di jajah kembali,kita sebagai generasi muda harus meningkatkan lagi rasa nasionalisme untuk negara kita,agar negara kita menjadi lebih aman,dan sejahtera dala
Diposting oleh
muhammad yusup
di
03.35
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
